Irigasi Tersier Jebol, Sebagian Petani di Wilayah Selatan Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Terancam Tidak Bisa Bercocok Tanam

Uncategorized

poswarta.com-Naurah

Saluran Tersier Pertanian di desa Banyumeneng Jebol, Petani di wilayah selatan Mranggen terancam tidak bisa bertani. (poto Naurah)

Demak, Jawa Tengah – Saluran irigasi tersier Daerah Irigasi (DI) Barang Kanan wilayah Desa Banyumeneng, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak jebol. Peristiwa tersebut terjadi sekira pada bulan Desem tahun 2023 lalu. Kerusakan saluran irigasi tersier ini terjadi di satu titik dengan panjang kurang lebih 50 m.
Kerusakan tersebut berdampak ke puluhan hektar sawah dan tegalan di sebagian wilayah kecamatan Mranggen bagian selatan yang meliputi sebagian desa Banyumeneng, Kebonbatur, Sumberejo, dan Kangkung tidak mendapatkan saluran dan bahkan pada musim tanam tahun 2024 ini dan seterusnya tidak bisa bercocok tanam. Beberapa petani berupaya mengatasi jebolnya saluran tersier tersebut, sebagaimana yang disampaikan bapak Rofii, pengurus kelompok tani Ngudi Utami. “kami mengumpulkan karung zak, kemudian diisi dengan tanah dan kami tumpuk untuk membentengi tlasar yang kami bentangkan agar air tidak tumpah,” jelas laki-laki berusia 55 tahun itu menjelaskan.
Namun jika tidak cepat ditangani petani terancam gagal panen, bahkan tidak bisa bercocok tanam pada tahun 2024 ini dan seterusnya,” jelas Rofii yang merupakan pengurus kelompok tani (poktan) yang membidangi budi daya tanaman. Sementara bapak Rojikan yang juga pengurus poktan Ngudi Utami desa Banyumeneng menyampaikan, agar pemerintah segera melakukan perbaikan saluran air tersebut dan juga pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT).
“jebolnya jaringan irigasi tersier yang belum pernah mendapat bantuan dari program pembangunan Jaringan Irigasi Tersier Usaha Tani (JITUT) pada daerah tersebut semakin memperparah para petani yang kesulitan mendapatkan akses jalan ketika memanen hasil pertanian,” kami berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi persoalan ini, kami dari kelompok tani Ngudi Utami belum mampu mengatasinya. Anggarannya cukup besar. Panjang JUT kurang lebih 2-3 km, yang sama panjangnya dengan JITUT. Paling tidak untuk jalan usaha tani yang berujud pengerasan jalan dan pembangunan JITUT bisa terwujud tahun ini, agar penderitaan kami tidak berkepanjangan,” jelas laki-laki yang setiap hari harus berjalan kaki kurang lebih 2 km menuju lokasi pertaniannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *